Mata Perengek

Februari 25, 2009 - Leave a Response

Sudah lama sekali aku tidak berada di tempat seperti desa yang saat ini aku berada. Tidak ada jalan raya, halaman rumah penuh tanah terbuka, jalan berkerikil, tidak ada supermarket, apalagi mall. Terlihat jelas bekas hujan yang membuat tanah becek dan mobil kami berkali-kali tergoyang-goyang. “Nah, kita sudah sampai,” kata sopir mobil kami. Kami semua turun dari mobil. Jalanan becek berlumpur dan genangan air hujan langsung menyambut kita. Dalam sekejap sepatu kami semua penuh dengan warna cokelat.

“Wah, maaf. Ya, begini ini kondisi desa kami kalau musim hujan. Harap maklum,” ketua desa menyambut kedatangan kami.

“Ah, tidak apa-apa,” jawab Pak Eko.

Setelah beristirahat sejenak, kami betemu dengan beberapa warga setempat di balai desa. Kami hendak memberikan bantuan atas korban bencana banjir di desa itu sebagai perwakilan dari perusahaan kami. Di sana sudah ada beberapa warga dan beberapa anak kecil yang bermain di dalamnya karena di luar mulai gerimis lagi. Mereka semua sangat bersemangat berlarian, terutama anak yang memakai baju yang seperti bajuku waktu aku dulu masih kecil.

Baju itu terlalu mirip dengan yang kupunya dulu. Bajuku saat aku berumur tujuh tahun. Bahkan warna biru pudar dan tulisan “POWER” di belakang baju itu mau tidak mau membawa kenangan lama kembali ke ingatanku. Aku mendekati anak itu yang sekarang sedang memegang tangan salah satu temannya.

“Dik.”

Aku memanggilnya. Kemudian dia menoleh padaku.

Benar sekali, aku ingat betul. Aku melihat dengan jelas bekas guntingan kecil di kerah baju itu yang kubuat dulu waktu kecil saat aku jengkel. Waktu itu aku meminta untuk dibelikan mainan yang saat itu mungkin harganya tidak bisa dibeli ayahku, satu set mainan kereta api beserta rel dan gerbongnya. Lalu aku meminta baju baru sebagai gantinya, tapi ayah malah membentakku. Dan akhirnya aku mengambil gunting yang rencananya akan kupakai untuk melubangi baju itu, tapi dicegah oleh ibu.

“Namanya siapa, dik?” dia tidak menjawabku. Dia malah lari menuju teman-temannya.

Saat itu umurku masih tujuh tahun. Ayahku memberikan baju itu sebagai hadiah ulang tahun, tapi aku tidak menyukainya. Lalu saat aku meminta baju baru sebagai ganti mainan yang tidak dibelikan ayah waktu kami sedang jalan-jalan, ayah beralasan kalau dia sudah membelikan baju yang tidak kusukai itu. Makanya aku mengguntingnya.

Meskipun begitu baju itu masih tetap aku kenakan. Baju itu aku kenakan saat bermain bersama teman sepermainan kecilku yang kini menjadi pendamping hidupku. Bahkan aku kenakan saat terakhir kali bertemu dengan ayahku. Ibuku terburu-buru mengajakku ke rumah sakit, katanya ayah kritis. Aku belum tahu kritis maksudnya apa. Di sana aku melihat ayahku terbaring di dalam kamar, ibu memintaku untuk menunggu di luar bersama pamanku. Beberapa saat kemudian ibu keluar dengan mata yang merah dan tiba-tiba memelukku dengan erat.

Baju itu kusumbangkan kepada korban bencana tanah longsor beberapa tahun yang lalu bersama pakaian bekas lainnya dan beberapa makanan. Namun tidak kusangka aku akan melihatnya lagi yang kini sedang dikenakan oleh seorang bocah yang aku tidak kenal.

Seperti aku tidak ingat akan hari-hari yang telah lalu, aku menjalani hari-hariku selama ini dengan perjuangan. Seakan hari yang lalu telah tiada, seperti mereka yang telah tiada pula.

Hello world!

Juli 24, 2008 - Satu Tanggapan

Selamat datang di Zenzenwakaranai.wordpress.com. Blog ini saya tujukan untuk memuat cerita yang saya buat sendiri, entah itu namanya cerpen, novel, cerita bersambung, yang penting ceritanya yang ingin saya buat.

Saya ingin memuat cerita yang akan saya buat, tapi berhubung file hasil ketikan hilang jadi males nulis lagi. Tapi harus tetep semangat. Kapanpun ada waktu harus update (nyemangati diri sendiri)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.